Ternyata
September 27, 2009
Belakangan ini saya baru sadar :
Ternyata, saya keterima Pusri, padahal saya pikir udah gak mungkin.. padahal saya pikir saya ga kompeten keterima di Pusri, padahal saya pikir posisi Cadangan 1 gak akan naik level lagi ke Calon karyawan. Padahal saya ga berdoa “Ya Allah, tolong aku diterima di Pusri”, saya berdoa untuk yg terbaik. Dan setelah tau diterima.. ternyata trainingnya lama dan betah, 18 bulan, ditambah lagi percobaan 3 bulan. Dan ternyata lagi.. ga ada penempatan untuk jurusan saya di Jakarta, sepertinya saya harus menyesuaikan diri dengan Palembang. Bagaimana dengan target saya selanjutnya?? dan orangtua pun udah wanti2 ‘jangan dapet sama orang Palembang ya syar…’, hmm….sama orang mana ya? orang mana aja lah asal gak Palembang (lho?! =)) ). Saya ga pernah berfikir atau terlintas di kepala saya bakal tinggal lama di Palembang. Ya Allah Ya Allah ya Allah…. hamba deg-deg-an. deg-deg-an dengan ‘ternyata’ yang lainnya, yang akan saya temui di sisa ‘perjalanan’.. dan hanya dengan mengingatMulah hati menjadi tenang…
Hari ini
September 5, 2009
Subhanallah hari ini…
ya. hari ini seperti hari biasa.. tapi subhanallah rasanya istimewa
pertama.. hari ini aku terbangun dengan kesadaran akan sesuatu yang tak pernah akan kumiliki
rasanya sedih, rasanya seperti rasa sebuah ‘kesia-siaan’.
tapi Alhamdulillah datang padaku kesadaran itu. selama ini aku salah.
memang tidak enak rasanya mengetahui diri ini salah. tidak pernah enak.
Namun dengan sedikit kesiuman itu, siuman dari lalai yang panjang. aku lega…
walau ku akui masih terseok-seok memperbaikinya. namun semoga ini bagai cahaya terang yang mengganti gelapnya salah. sadarlah syarach! aamiin.
Kedua… business plan ku telah didiskusikan dengan akhwat forta lain. wuahaha. reaksi yang terlihat di wajah mereka adalah takjub. hiah.. ge er beut. hehehe.
tapi Alhamdulillah, walau reaksi mereka tidak se-signifikan yang saya gambarkan.. bisa lah memompa semangat saya, walau usul saya tidak se-fresh atau se-original ide ide hebat. huehue. semangat deh.
Ketiga
Sepulang dari dauroh Qur’an tadi… dapat kabar gembira. paginya saya memang diantar ke tempat dauroh sama kakak karena sekalian dia check up bayinya gimana.. dan ternyataaa……
jreng…jreng..jreng…. *lho, apa? apa??!
dedeknya ahrus segera dikeluarkan secepatnya..
karena dedeknya kelilit tali pusar lehernya.. jadi dia ga bisa turun untuk nyari jalan keluar
dan untuk mengatasi hal tersebut, harus dilakukan operasi caesar..
mungkin, selama ini berdoanya ingin normal.. tapi Allah lah yang berkehendak.
Semoga dedek dan uminya sehat selalu, diberikan yang terbaik.. dan abi serta kami sekeluarga diberikan kekuatan dan kesabaran. aamiiin….
Dek Rauf……. khoola menantimu sayang…… love you already Rauf..
Can’t wait for sahur because after that, wait for the dawn, pray then we take off to hospital…
can’t describe the feeling… *gimana kalau menantikan anak sendiri ya? ooh… the feeling and happyness I can not bare it.
Rauf.. birth out carefully! okay? .. we wait for you here
Bidadari Surga
August 31, 2009
Namanya “Aini”. begitu ummi biasa memanggilnya. Salah satu “adik ” terbaik yang pernah ummi miliki, yang pernah ummi temui dan alhamdulillah Allah pertemukan ummi dengannya. Seharusnya 28 Januari lalu genap ia menginjak usia 37 tahun. Beberapa tahun bersamanya , banyak contoh yang bisa ummi ambil darinya. Kedewasaan sikap, keshabaran, keistiqomahan, dan pengabdian yang luar biasa meretas jalan da’wah ini. Seorang muharrik da’wah yang tangguh dan tak pernah menyerah. Sosok yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah putus asa dan memiliki khusnuzon yang teramat tinggi kepada Allah. Dan dia adalah salah satu amanah ummi terberat, ketika memang harusnya ia sudah memasuki sebuah jenjang pernikahan.
Ketika beberapa akhwat lain yang lebih muda usianya melenggang dengan mudahnya menuju jenjang tersebut, maka ‘Aini Allah taqdirkan harus terus meretas keshabaran. Beberapa kali ummi berikhtiar membantunya menemukan ikhwan shalih, tetapi ketika sudah memulai setengah perjalanan proses..Allah pun berkehendak lain. Namun begitu, tidak pernah ada protes yang keluar dari lisannya, tidak juga ada keluh kesah, atau bahkan mempertanyakan kenapa sang ikhwan begitu ” lemahnya ” hingga tidak mampu menerjang berbagai penghalang ? Atau ketika masalah fisik, suku , serta terlebih usia yang selalu menjadi kendala utama seorang ikhwan mengundurkan diri , ‘Aini pun tidak pernah mempertanyakan atau memprotes ” kenapa ikhwan sekarang seperti ini ? Tidak ada gurat sesal, kecewa, atau sedih pada raut muka ataupun tutur katanya . Kepasrahan dan keyakinan terhadap kehendak Allah begitu indah terlukis dalam dirinya. Hingga, akhirnya seorang ikhwan shalih yang dengan kebaikan akhlak serta ilmunya, datang dan berkenan untuk menjadikannya seorang pendamping. Tidak ada luapan euphoria kebahagiaan yang ia tampakkan selain ucapan singkat yang penuh makna ” Alhamdulillah. .jazakillah ummi sudah membantu…mohon do’a agar diridhai Allah ” Alhamdulillah , Allah mudahkan proses ta’arauf serta khitbah mereka, tanpa ada kendala apapun seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Padahal ikhwan shalih yang Allah pilihkan tersebut berusia 10 tahun lebih muda dari usianya. Berkomitmen pada sunnah Rasulullah untuk menyegerakan sebuah pernikahan, maka rencana akad pun direncanakan 1 bulan kemudian, bertepatan dengan selesainya adik sang ikhwan menyelesaikan studi di negeri Mesir.
Namun , Allah lah Maha Sebaik-baik Pembuat keputusan.. 2 minggu menjelang hari pernikahan, sebuah kabar duka pun datang. Usai ‘Aini mengisi sebuah ta’lim , motor yang dikendarainya terserempet sebuah mobil, dan menabrak kontainer didepannya. ‘Aini shalihah pun harus meregang nyawa di ruang ICU. 2 hari setelah peristiwa itu, Rumah sakit yang menanganinya pun menyatakan menyerah. Tidak sanggup berbuat banyak karena kondisinya yang begitu parah. Hanya iringan dzikir disela-sela isak tangis kami yang berada disana. Semua keluarga ‘Aini juga sang ikhwan pun sudah berkumpul. Mencoba menata hati bersama untuk pasrah dan bersiap menerima apapun ketentuanNya. Kami hanya terus berdo’a agar Allah berikan yang terbaik dan terindah untuknya.
Hingga sesaat, Allah mengijinkan ‘Aini tersadar dan menggerakkan jemarinya. Rabb..sebait harapan pun kembali kami rajut agar Allah berkenan memberikan kesembuhan, walau harapan itu terus menipis seiring kondisinya yang semakin melemah. Hingga kemudian sang ikhwan pun mengajukan sebuah permintaan kepada keluarga ‘Aini. ” Ijinkan saya untuk membantunya menggenapkan setengah Dien ini. Jika Allah berkehendak memanggilnya, maka ia datang menghadap Allah dalam keadaan sudah melaksanakan sunnah Rasulullah.. .” Permintaan yang membuat kami semua tertegun. Yakinkah dia dengan keputusannya ? Dalam kedaaan demikian , akhirnya 2 keluarga besar itupun sepakat memenuhi permintaan sang ikhwan. Sang bunda pun membisikkan rencana tersebut di telinga ‘Aini. Dan baru kali itulah ummi melihat aliran airmata mengalir dari sepasang mata jernihnya. Tepat pukul 16.00, dihadiri seorang penghulu,orangtua dari 2 pihak, serta beberapa sahabat dan dokter serta perawat…pernikaha n yang penuh tangis duka itupun dilaksanakan.
Tidak seperti pernikahan lazimnya yang diiringi tangis kebahagiaan, maka pernikahan tersebut penuh dengan rasa yang sangat sulit terlukiskan. Khidmat, sepi namun penuh isakan tangis kesedihan. Tepat setelah ijab kabul terucap…sang ikhwan pun mencium kening ‘Aini serta membacakan do’a diatas kain perban putih yang sudah berganti warna menjadi merah penuh darah yang menutupi hampir seluruh kepala A’ini. Lirih, kami pun masih mendengar ‘Aini berucap, ” Tolong Ikhlaskan saya…..” Hanya 5 menit. Ya..hanya 5 menit setelah ijab kabul itu. Tangisanpun memecah ruangan yang tadinya senyap menahan sesak dan airmata. Akhirnya Allah menjemputnya dalam keadaan tenang dan senyum indah. Dia telah menjemput seorang bidadari… Sungguh indah karunia dan janji yang telah Allah berikan padanya… Dia memang hanya pantas untuk para mujahidNya di Jannah al firdausi…. Dan sang ikhwan pun melepas dengan penuh sukacita dengan iringan tetes airmata yang tidak kuasa ditahannya.. . ” ..Saya telah menikahi seorang bidadari.. nikmat mana lagi yang saya dustakan…”
Begitulah sang ikhwan shalih mengutip ayat Ar RahmanNya… Ya Rabb..Engkau sebaik-baik pembuat skenario kehidupan hambaMu..Maka jadikanlah kami senantiasa dapat memngambil hikmah dari setiap episode kehidupan yang Engkau berikan… Selamat jalan adikku sayang …engkau memang bidadari surga yang Allah tidak berkenan seorang ikhwan pun didunia ini yang bisa mendampingi kehidupanmu kecuali para ikhwan shalih yang berkhidmat di jalan da’wah dengan ikhlas, tawadhu dan siap berjihad dijalanNya dan kelak menutup mata sebagai seorang syuhada….” Selamat jalan ‘Aini..semoga Allah memberimu tempat terindah di surgaNya…. ( bait kenangan terakhir bersamamu; ummi tidak bisa menulis seindah tulisan2mu, tapi yakinlah ummi mengiringimu dengan indahnya do’a …semoga Allah kumpulkan kita kelak didalam surgaNya…amiin)
>>>bila ada kebaikan silahkan share k tmn2… ana dpt kisah ini dr seorang teman
ExtraOrdinary
August 29, 2009
I was a day dream
Quiet and unseen
I lived in stories but inside I kept a mystery
I was a starling
Nobody’s darling
Flying in perfect circles
Desperate company
And now I’m ready
And now I’m ready
And now I’m ready to be
Extraordinary
A midnight airplane
A window blowing
I know I am another sparkle in the sky
I shine on copper
Still undiscovered
But you must see me in the corner of your eye
And now I’m ready
And now I’m ready
And now I’m ready to be
Extraordinary
Waking up to wake up some day
I am my own prey
Stopping off at a sidewalk cafe
The wind is playing up in the trees
Kicking up confetti leaves
Sings as if it’s all to say
And now I’m ready
And now I’m ready
And now I’m ready to be
Extraordinary
And now I’m ready
And now I’m ready
And now I’m ready to be
Extraordinary
*kapan ya bisa nyanyiin lagu ini… ‘i’m ready to be ExtraOrdinary !!!’
Beda Belalang..
August 24, 2009
Lain lumbung lain belalang.. lain daerah lain ikhwahnya..
Terakhir kali aku menetap di jakarta rambut masi belum ketutup, yg didengar dan ditahu hanya apa apa yang aku mau tahu, yang menyenangkan bagi duniawiku. Dulu mana ‘ngeh’ sama yang namanya liqo, syukron-afwan, ukhti-akhi, ushul-furu’, dsb.. ![]()
yah yang dasar2 aja sih alhamdulillah masih ngerti, masih jalan..seadanya.. astaghfirullah.
Sekarang menetap lama di jakarta , malah kangen sama bandung, tempat perkenalan sama hal2 baru tadi.. karena walaupun sudah pindah dimari dan tetep ada ikhwah dimana2 tetep aja rasanya beda. suasana beda..dan kalau dicerna2 bedanya, malah menarik dan lucu.
Dari ngariyungan sm puchair dkk kemaren, masing2 cerita gmn suasana liqonya, deperanya, rapatnya, forum2 yg ada, dan kebanyakan adalah hal2 yang ga biasa, yang ga sering kita temuin di bandung dulu.
Dari mulai forum rohis yang acara nya sampe malem (beh, ga nyangka, ga lagi2 deh..) dari temen liqo yg ummahat2 semua yang single cuma atu (kita
) ), atau temen yg lain dari kampus yang sama kecuali kita, jadi kita asing bengong2 sendiri ga ada temen cs-an, hehe.. atau bahkan MR dan mutarabbi yang gue-elo gue-elo-an,atau mba2 yang maunya dipanggil nama aja, belum lagi di deperanya.. ada aja lah yang vulgar nyariin ikhwan di depan pasangan lain buat temen yg ketauan masih single =)) serem bgt neh.. atau yg di sms in ikhwan ‘aneh’, ada juga yg temen2 akhwat boncengan pake duduk ngadep depan di motor gak nyamping kyk di bandung pdhl jaraknya deket2 aja.. duh aneh2 dan lucu2 deh, lebih fleksibel, lebih santai, lebih bebas di ibukota ini… mungkin karena gak terbiasa, mungkin karena berasa ada di luar zona nyaman kita..
Hm..Ibukota..ibukota, amat beragam wajahmu, kesemuanya cantik sebenarnya, asal tdk memecah belah dan menyimpang jauh dariNya.
Tapi, pas aku liqo..terjawab sudah, pas banget bahasannya.. kekagetan, kegelisahan atau keheranan karena bedanya lingkungan dan suasana baru. materi ahad itu tentang ikhtilaf..
Bahwa ikhtilaf itu adalah keniscayaan. Yoi banget. bakal tambah keheranan saya atau bahkan bisa boring kalau semuanya percis sama..ga kenal dengan saudara lain, ga kenal dengan pendapat dan pemikiran mereka yg lain yang berwarna dan mewarnai, yang harus ditegaskan adalah gimana kita nyikapinnya, tanpa timbul perpecahan.. adab dan prinsip perbedaan itu sendiri..atau batas2 toleransi dan adab berdiskusi kalau ada yang kira2 ganjel karena beda.. bukan ingin mojokin, nyari kesalah ampe debat kusir, tp malah nyari benernya gimana dgn adem ayem aja bukan dengan nada tinggi dan intonasi yg lebay
.. kalau kata teth saya sih ‘di bawah naungan persaudaraan dan cinta kepada islam, Allah dan RasulNya..’ , beuh cakep banget dah. hehehehehe.
oke deh ibukota.. ane hadepin ente pake cinta!! *jiah.. =))


