Protected: Weakest part
October 30, 2008
Ibu, pelita dalam kegelapan
October 29, 2008
Bismillaahirrahmanirrahiim.
Dari minggu kemarin, lagi liburan di rumah di jakarta..
Biasanya, kalau di rumah.. alhamdulillah banyak hiburan. banyak makanan juga.. yg paling enak ada internetnya. Nah, kebanyakan fasilitas atau hiburan yang tersedia itu berhubungan dengan listrik… Namun, lusa siangnya .. rumah saya mati lampu. mendadak ga ada listrik .. pdhal lagi browsing plus nge-post. Duh, bingung deh .. gak tau mau ngapain lagi siang itu. nonton tv? pakai listrik. denger radio? pakai listrik. Akhirnya muncul ide, satu-satunya hiburan yang gak pakai listrik adalah baca buku.
Buku sudah dipilih.. dikeluarkan dari rak.. cari posisi enak. Segera halaman pertama saya buka. Tapi sedetik kemudian sadar. Ruangan dalem rumah gelap.. kok gelap? iya.. karena di luar lagi hujan gede.. mendungnya juga ‘gede’ .. gelap banget maksud saya. Jadi di rumah pun gelap. walau ruangan dimana saya duduk ruangan yang dekat dengan pintu dan 4 jendela. Tapi tetap gelap. Betapa, ah betapa kita butuh lampu.
Waktu itu saya mikir. Kalo si Bapak thomas alva edison itu gak nemuin lampu gimana ya ?
Saya inget sama salah satu cerita di buku yang saya beli beberapa hari yang lalu. Disitu diceritain Pak Edison pernah ditolak dari satu sekolah karena Beliau banyak nanya, dan dianggap anak yang bodoh.. Tapi, selalu ada seseorang yang percaya sama Beliau dan bersedia ngajarin dia semua yang diajarkan di sekolah-sekolah, seseorang itu adalah ibunya. Ibunya yakin bahwa Thomas memiliki kecerdasan terpendam, dan yakin bahwa suatu hari Thomas bakal jadi ‘orang’ karena kecerdasannya. Pada usia kesembilan Thomas telah mempelajari buku-buku penulis ternama, seperti Gibbon, Plato dan Hammer. Ibunya pun tidak hanya memberi ilmu bagi otaknya, namun pelajaran bagi hati Thomas, semangat yang selalu diberikan dan keyakinan pada Thomas bahwa Thomas bisa. ” Sejak kecil, saya tahu bahwa ibu adalaha sosok yang sangat bijak; ketika guru saya memanggil saya anak dungu, Beliau membela saya. Sejak saat itu saya bertekad untuk memebuktikan kepada ibu saya Beliau tak salah membela saya.” Maka setiap percobaan pun dilakukan, dan setiap itu pun gagal. Namun karena ibunya, Thomas dapat menjadi penemu hebat dunia, lampu pun ditemukan, dan penemuan2 hebat Thomas lainnya bisa digunain dunia sampai sekarang. Thomas pun sempat berkata satu kalimat yang menggambarkan betapa berharganya ibunya, ” Kalau ibu tak memotivasi saya , mungkin saya takkan menjadi seorang penemu.Dulu saya adalah orang yang selalu ingin hidup bebas; kalau bukan perhatian Ibu, kemungkinan besar saya sudah menyimpang. Namun keteguhan dan kebaikannya telah menyelamatkan saya.”
Betapa seorang ibu dapat menjadikan sebuah mimpi merubah dunia menjadi nyata.
Nah, kalau saya lagi inget lampu.. saya jadi inget ibu, sang pelita dalam kegelapan..
The other side of the world
October 29, 2008
Bismillaahirrahmanirrahiim.
Yesterday, i was browsing on the internet and i found muslimah’s blog, i read her writing about how she converted -or i prefer the word ‘returned’- to Islam and how she struggled with her life then she finnaly found peace in Islam…
Yeah, it’s always been amazing, and overwhelming feeling to know that there’s a lot of my brothers and sisters on the other side of the world has found hidayah from Allah SWT. No matter what the colour of our skin, the differences we have in our language, our culture, our life.. we still in the same faith.. we still brothers and sisters, as long as we believe in Allah and Rasulullah.. as long as we are a Muslim and Muslimah.. Dalam islam, gak diajarin rasisme, kita gak menilai seseorang, berteman maupun bersaudara dengan sesorang bukan karena didasarkan warna kulitnya. Malah saya ngerasa seneng banget untuk tau kalau entah di belahan dunia mana.. seseorang telah kembali ke fitrahnya, kembali mengikat janjinya dengan Allah yang dulu kala di dalam kandungan ibu pernah ia ucapkan. Mungkin gak kayak beberapa negara di dunia yang ngebedain banget warna kulitnya. Agh, jika begitu banyak saudaraku di seberang laut sana, di ujung daratan sebelah… atau di kaki bukit dan gunung dekat sini.. rasanya ga ada lagi yang namanya ‘other side’. semua di satu sisi, di Bumi Allah.
Andai Dalai Lama tahu
October 28, 2008
Bismillaahirrahmannirrahiim.
Setelah bolak-balik browsing, saya dapat sebuah artikel tentang kata-kata Bijak Dalai lama. Dalai lama adalah tokoh spiritual di Tibet sana. Saat membaca di tiap kutipan kata-katanya, saya merasa pernah mengenal inti yang sama dengan yang beliau bicarakan… * tulisan miring merupakan kutipan dalai lama yang diambil dari sini, sisanya komentar saya ^^ *
Kebahagian tidak terjadi begitu saja. Itu muncul dari hasil perbuatan kita. >> Ya, memang.. Allah swt tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu mengubahnya. jadi kalau mau mendapatkan apa yang kita inginkan, kebahagiaan misalnya, kita harus mengusahakannya.
Jika Mampu, Tolong & Bantulah Orang Lain. Jika Tidak, Setidaknya jangan mencelakan orang lain. >> Hm, syaa kurang ingat gimana tepat bunyi hadistnya, tapi inti dari hadist itu tentang sedekah atau memberi sebagian hartanya kepada orang lain, yaitu saat Rasulullah saw ditanya seorang miskin yang ingin bersedekah, namun ia tidak memiliki harta sama sekali, maka minimal dengan tidak mencelakakan orang lain, maka itu juga termasuk sedekah.
Ingat !!! Tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan, kadang2 adalah sebuah berkah. >> Allah menjawab doa hambaNya dengan 3 cara, mengabulkannya langsung karena itu baik bagi hambaNya, menunda atau mengabulkan doanya nanti di akhirat, ketiga menggantikannya dengan yang lebih baik.
Potensi seluruh manusia adalah sama. Perasaan kamu yang bilang ” Aku tidak berharga” adalah salah. Salah sama sekali. Kamu menipu dirimu sendiri. Kita semua memiliki kekuatan dalam batin kita, jadi apa yang kurang ? Jika kamu punya tekad, kamu dapat mengubah apapun. Kamu adalah guru bagi dirimu sendiri. >> Allah tidak pernah menimpakan kepada hambaNya suatu ujian atau cobaan yang hambaNya tak sanggup memikulnya.
Kita mesti menyadari, Penderitaan satu orang atau satu bangsa adalah Penderitaan bagi seluruh umat manusia. Kebahagiaan satu orang atau satu bangsa adalah Kebahagiaan bagi seluruh umat manusia. >> dalam hadist, Rasulullah bersabda.. Umat Muslim seharusnya bagaikan satu tubuh, jika satu bagian saja sakit maka sakitlah seluruh tubuhnya, begitu juga muslim, jika satu orang muslim tersakiti maka selayaknya merasa sakitlah muslim yang lainnya.
Sebagaimana kita bisa hidup di zaman sekarang, maka kita mesti juga memikirkan generasi mendatang : Sebuah lingkungan yang bersih & sehat adalah layaknya seperti sebuah hak azasi. Merupakan tanggung jawab kita kepada generasi penerus untuk menjaga bumi, melestarikan lingkungan. >> Dalam Al-qur’an Allah swt telah memperingati manusia, agar tidak membuat kerusakan di bumi.
Menaklukkan diri sendiri adalah lebih baik dari pada menaklukkan ribuan musuh dalam peperangan. >> Rasulullah saw pernah bersabda, sesungguhnya jihad (perjuangan) terberat adalah melawan hawa nafsu diri sendiri.
Ada sebuah istilah di tibet, “Musibah seharusnya dimanfaatkan menjadi sumber kekuatan”. Tidak perduli seberapa kesulitan yang kita alami, betapa menyakitkkan keadaan tersebut, Jika kita sampai kehilangan harapan, maka itu benar-benar merupakan musibah. >> Allah pun sangat membenci hambaNya yang berputus asa / kehilangan harapan.
Al-qur’an dan hadist telah ada beribu-ribu tahun yang lalu, jauuuuuh sebelum Dalai lama dilahirkan. Dan pemikiran-pemikiran bijaknya Dalai lama ternyata telah tersebut dan termaktub dalam Al Qur’an dan hadist.. mungkin tidak Dalai lama saja, banyak pemikir lainnya yang inti pemikirannya telah termaktub juga dalam Al-Qur’an. Dan bahkan tidak hanya pemikiran manusia saja… tapi juga banyak hal-hal yang terjadi didunia seperti penciptaan manusia, ilmu astronomi, big Bang, terusan Suez, pertemuan arus hangat dan dingin di Jepang dan masih banyak peristiwa ilmiah lainnya yang telah termaktub di dalam Al-Qur’an yang tidak pernah diubah-ubah isinya sejak pertama ada di dunia, beribu-ribu tahun yang yang lalu.
Karena itu Al Qur’an dinamakan mukjizat.
Maaf jika terdapat kesalahan, correct me if i’m wrong.
Bukan sekedar panggilan
October 27, 2008
Bismillaahirrahmannirrahiim.
Sudah 4 tahun saya memakai jilbab, alhamdulillah… bersyukuuur banget, bisa ngerasain nyamannya terlindungi. Dilindungi Dia yang punya ini langit (dari yang pertama sampai yang ke-tujuh), ini bumi ( dari keraknya sampai atmosfer ) ditambah semua yang ada diantaranya. Karena saya yakin perintah itu datang dari Yang paling ngerti saya, lebih dari siapapun yang ngerasa ngerti saya, termasuk diri saya sendiri.
Dulu, jilbab saya masih yang sepundak.. seiring berjalannya waktu.. jilbab itu kian memanjang, sampai perut. bersamaan dengan makin sadarnya saya akan kewajiban saya.
Nah, yang sedikit mengganggu..
dulu, waktu jilbab saya gak sepanjang sekarang.. gak ada yang manggil saya ‘ukhti’ ( dalam bahasa arab artinya saudariku, muslimah).. atau saya dapat kata ganti ‘akhwat’ (saudara perempuan). Walau hal ini sepele.. tapi, di saya membekas. Sekarang, alhamdulillah temen-temen sudah menganggap saya salah satu akhwat di kampus. terkadang, dalam percakapan hangat saya dipanggil ukhti… tapi, kenapa? kenapa baru sekarang? kenapa tidak sedari dulu ya? sejak saya masuk kampus, bertemu dan kenal dengan para akhwat lainnya yang sering beraktivitas di mesjid atau organisasi rohani.. ya, minimal sejak mereka tahu saya muslimah, minimal saat saya sudah memakai jilbab berapapun panjangnya.
Hm,, jujur, dulu saya merasa ter’kotak’an, walau terkotakan atau tidak bukan menjadi alasan saya sewaktu memutuskan memakai jilbab, tapi sungguh, walau sedikit.. walau kecil.. tapi di dalam hati dulu saya menyayangkan kenapa saya tidak dipanggil dengan panggilan itu, panggilan yang lebih baik, karena memakai bahasa Arab, bahasa kaumku, kaum kami, kaum muslim. Karena sebenarnya diawal mahasiswa baru masuk kampus, sudah diadakan pengajian dan kajian-kajian islam untuk kita, dan disana sudah dikenalkan dengan istilah akhwat,ikhwan,ukhti,akhi.. jadi insyaAllah gak akan bingung jika dipanggil seperti itu.. bahkan senang, senyum malu di dalam hati jika aku dipanggil ukhti.. karena aku tau panggilan itu panggilan baik, panggilan khusus bagi saudari yang beragama islam.
Sebenarnya, hal itu dapat berpengaruh kepada psikis seseorang, saat dia dipanggil dengan sebuah panggilan.. secara kontinu, terus menerus, konsisten, itu akan membekas.. atau bahkan bisa menjadi doa, seperti halnya nama. Dan siapa tahu, dengan panggilan yang sederhana itu, namun jika diucapkan dengan ikhlas, diiringi senyum bersahabat.. dapat menjadi jalan dakwah tersendiri untuk saudara/i muslim/ah yang belum berjilbab, belum dalam mengenal islam, mengenal persaudaraan dalam islam. Agar dapat timbul dalam hati mereka walau hanya setitik dua titik, bahwa mereka bagian dari para akhwat atau ikhwan di sekolah, di kampus di kantoran.. tidak ada pembedaan dalam persaudaraan islam.. bahwa kita yang telah lebih dulu mengenal ingin segera mengajak saudara lain yang belum mengenal. Selama kau percaya bahwa Allah TuhanMu dan Muhammad RasulMu.. kau saudaraku….. . indah, ya ? ya… itulah Islam.
Menurutmu ??
Ah, semoga juga ini dapat menjadi renunganku.. mulai dari teman yang terdekat dulu.. mulai dari adik-adikku… mulai dari aku.
Doakan ya …..
