Ibu, pelita dalam kegelapan

October 29, 2008

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Dari minggu kemarin, lagi liburan di rumah di jakarta..

Biasanya, kalau di rumah.. alhamdulillah banyak hiburan. banyak makanan juga.. yg paling enak ada internetnya. Nah, kebanyakan fasilitas atau hiburan yang tersedia itu berhubungan dengan listrik… Namun, lusa siangnya .. rumah saya mati lampu. mendadak ga ada listrik .. pdhal lagi browsing plus nge-post. Duh, bingung deh .. gak tau mau ngapain lagi siang itu. nonton tv? pakai listrik. denger radio? pakai listrik.  Akhirnya muncul ide, satu-satunya hiburan yang gak pakai listrik adalah baca buku.

Buku sudah dipilih.. dikeluarkan dari rak.. cari posisi enak. Segera halaman pertama saya buka. Tapi sedetik kemudian sadar. Ruangan dalem rumah gelap.. kok gelap? iya.. karena di luar lagi hujan gede.. mendungnya juga ‘gede’ .. gelap banget maksud saya. Jadi di rumah pun gelap. walau ruangan dimana saya duduk ruangan yang dekat dengan pintu dan 4 jendela. Tapi tetap gelap. Betapa, ah betapa kita butuh lampu.

Waktu itu saya mikir. Kalo si Bapak thomas alva edison itu gak nemuin lampu gimana ya ?

Saya inget sama salah satu cerita di buku yang saya beli beberapa hari yang lalu. Disitu diceritain Pak Edison pernah ditolak dari satu sekolah karena Beliau banyak nanya, dan dianggap anak yang bodoh.. Tapi, selalu ada seseorang yang percaya sama Beliau dan bersedia ngajarin dia semua yang diajarkan di sekolah-sekolah, seseorang itu adalah ibunya. Ibunya yakin bahwa Thomas memiliki kecerdasan terpendam, dan yakin bahwa suatu hari Thomas bakal jadi ‘orang’ karena kecerdasannya. Pada usia kesembilan Thomas telah mempelajari buku-buku penulis ternama, seperti Gibbon, Plato dan Hammer. Ibunya pun tidak hanya memberi ilmu bagi otaknya, namun pelajaran bagi hati Thomas, semangat yang selalu diberikan dan keyakinan pada Thomas bahwa Thomas bisa. ” Sejak kecil, saya tahu bahwa ibu adalaha sosok yang sangat bijak; ketika guru saya memanggil saya anak dungu, Beliau membela saya. Sejak saat itu saya bertekad  untuk memebuktikan kepada ibu saya Beliau tak salah membela saya.” Maka setiap percobaan pun dilakukan, dan setiap itu pun gagal. Namun karena ibunya, Thomas dapat menjadi penemu hebat dunia, lampu pun ditemukan, dan penemuan2 hebat Thomas lainnya bisa digunain dunia sampai sekarang. Thomas pun sempat berkata satu kalimat yang menggambarkan betapa berharganya ibunya, ” Kalau ibu tak memotivasi saya , mungkin saya takkan menjadi seorang penemu.Dulu saya adalah orang yang selalu ingin hidup bebas; kalau bukan perhatian Ibu, kemungkinan besar saya sudah menyimpang. Namun keteguhan dan kebaikannya telah menyelamatkan saya.”

Betapa seorang ibu dapat menjadikan sebuah mimpi merubah dunia menjadi nyata.

Nah, kalau saya lagi inget lampu.. saya jadi inget ibu, sang pelita dalam kegelapan.. :)

The other side of the world

October 29, 2008

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Yesterday, i was browsing on the internet and i found muslimah’s blog, i read her writing about how she converted -or i prefer the word ‘returned’- to Islam and how she struggled with her life then she finnaly found peace in Islam… muslimah Yeah, it’s always been amazing, and overwhelming feeling to know that there’s a lot of my brothers and sisters on the other side of the world has found hidayah from Allah SWT. No matter what the colour of our skin, the differences we have in our language, our culture, our life.. we still in the same faith.. we still brothers and sisters, as long as we believe in Allah and Rasulullah.. as long as we are a Muslim and Muslimah.. Dalam islam, gak diajarin rasisme, kita gak menilai seseorang, berteman maupun bersaudara dengan sesorang bukan karena didasarkan warna kulitnya. Malah saya ngerasa seneng banget untuk tau kalau entah di belahan dunia mana.. seseorang telah kembali ke fitrahnya, kembali mengikat janjinya dengan Allah yang dulu kala di dalam kandungan ibu pernah ia ucapkan. Mungkin gak kayak beberapa negara di dunia yang ngebedain banget warna kulitnya. Agh, jika begitu banyak saudaraku di seberang laut sana, di ujung daratan sebelah… atau di kaki bukit dan gunung dekat sini.. rasanya ga ada lagi yang namanya ‘other side’. semua di satu sisi, di Bumi Allah.