Ayah, dia bilang apa?
November 13, 2008
Bismillaahirrahmanirrahiim
Pada suatu malam, seorang gadis kecil berumur 4 tahun lebih, panggil saja Ia Nisa, heran dengan ayahnya yang duduk di depan TV. Wajah kecilnya merengut bingung menatap televisi, berusaha keras mencerna apa yang dibicarakan sang tokoh cerita, Si koboi. Sang ayah menangkap ekspresi anak gadisnya, ia pun mengajak Nisa duduk disampingnya, ” Knapa Nisa mukanya merengut2 begitu? ” . ” Ayaah, dia bilang apa sih? ” tanya Nisa sambil menunjuk sang koboi di tv. Ayahnya tertawa, pantas Nisa merengut, dia tidak mengerti, karena sedari tadi sang koboi berbicara dalam bahasa inggris, walau ada teksnya tapi Nisa belum bisa baca, ” itu yang di bawah tulisan apa? banyak banget “, teks itu malah bikin dia tambah bingung..
Sang ayah merangkul Nisa mendekat, ia menjelaskan dengan sabar setiap ucapan yang dikatakan Si Koboi, setiap kata yang ditanyakan Nisa, ” Tadi Koboi bilang apa? “, ” Koboinya bilang dia mau pergi “, ” Ko ayah tau? “, ” Tadi Koboinya bilang ‘i want to go’.. i itu artinya aku, want to itu artinya mau.. go itu artinya pergi.. “, ” Ooo ” Nisa hanya mengangguk-ngangguk sok mengerti. Tak lama dia bertanya lagi dan lagi dan lagi, malah terkadang sok menebak, tebakan yang selalu diikuti tawa ayahnya, … karena walau muka Nisa menyengir yakin, tapi tebakan Nisa selalu salah.
Cerita koboi itu kesayangan ayahnya, namun sejak malam itu, jadwal khusus nonton tv ayah terganggu.
Di malam-malam berikutnya, Nisa senang jika menonton acara bahasa inggris dengan ayahnya, bertanya setiap kata yang mengganggu perhatiannya, kata-kata aneh yang belum dikenalnya. Ayahnya dengan sabar diganggu, menjawab setiap pertanyaan, menjelaskan sesimple mungkin, terkadang mengulang dari awal cerita, tahu bahwa dengan waktu yang sedikit ini, anaknya mendapat segudang ilmu. Tak hanya di depan tv, saat jalan-jalan naik mobil, Nisa menunjuk kata dan bertanya artinya apa, Nisa menunjuk suatu benda dan bertanya apa bahasa inggrisnya. Saat sedang makan bakso, di depan warung bakso ada bioskop, Nisa bertanya apa judul filmnya, sang Ayah pun seperti biasa.. menjawab dengan penjelasan sederhana. Nisa menggangguk-ngangguk. Terkadang ayahnya mengajaknya mengobrol dengan bahasa inggris sederhana, Nisa menjawab singkat-singkat dengan cadelnya, kadang benar kadang salah, ayahnya hanya tersenyum, mengoreksinya dengan lembut, Nisa malu, ia berucap dalam hatinya, suatu hari nanti ia ingin pergi ke tempat dimana bahasa ini berasal.. dan membawa ayahnya turut serta kesana.
Beberapa tahun berlalu, Nisa sekarang siswi SMA, saat ia menonton film bahasa inggris tidak lagi selalu ditemani ayahnya, tidak bertanya lagi apa arti per kata, karena setiap ada kata baru yang ditemuinya, ia tidak kuat menahan penasaran, segera kebet kamus, mencari jawabannya. Sang ayah kini tidak dapat menjawab banyak pertanyaan Nisa, karena Nisa sering bertanya kata-kata yang belum dikuasainya. Bahkan Ayahnya yang mulai gantian bertanya, kata-kata yang sulit, frase-frase yang membingungkan. Nisa menjawab dengan santunnya. Saat tes TOEFL diadakan, ia mendapat score 483, skor paling tinggi diantara murid lain di kelasnya. Padahal Nisa tidak pernah diizinkan oleh ayahnya mengikuti les tambahan diluar sekolah, entah itu les pelajaran umum atau bahasa inggris. Sejak saat itu, ia disayang guru bahasa inggrisnya
.
Nisa sekarang mahasiswi di Kampus ternama, fakultasnya mengadakan pameran, terdengar kabar bahwa seorang professor dari Jerman hadir di tengah-tengah mereka. Nisa berjaga di stand laboratorium bersama beberapa senior dan teman lainnya, ternyata professor tersebut menghampiri stand lab Nisa. Sang professor bertanya panjang lebar dalam bhs inggris. Tak ada yang berani menjawab pertanyaan Beliau, hingga Nisa sadar harus ada yang menjawabnya segera, lalu ia dengan sedikit gugup dan nekat membuka suara. beberapa detik awal Nisa deg-degan dan terbata-bata, gugup menguasainya. namun, tak lama percakapan terasa mengalir, sang Professor mengangguk mengerti ‘i see.. i see..’ kadang tersenyum dan tertawa. Nisa pun merasa lega saat Professor menjabat tangannya, ‘Thank you very much for the answer, Nisa..’, You’re welcome. Sedetik kemudian Nisa teringat ayahnya… Ditekannya beberapa nomor di hp nya, tak berapa lama suara ayahnya terdengar, Nisa bercerita pengalaman pertamanya tadi dengan orang asing asli, professor pula. Ayahnya bernada bahagia dan bangga, tak hentinya memuji Nisa. Kemudian sang ayah dengan isengnya bercanda, mengajak Nisa mengobrol dalam bhs inggris, Nisa senyum-senyum mendengarkan, menjawab, kemudian dengan hati-hati berkata bahwa ayahnya salah menggunakan beberapa kata, ayahnya hanya tertawa malu sambil berkata ah, sorry..sorry Nisa, my mistake . Tapi.., hati Nisa berkata sebaliknya, ‘Tidak yah, Ayah sama sekali tidak salah.. Nisa dapat berkata-kata seperti ini tidak lain hanya karena Ayah..’.