take a step
December 30, 2008
Bismillah
Aah.. saya udah di jakarta lagi nih..
Alhamdulillah.. sebenernya rencana awal beberapa minggu yang lalu, saya gak akan balik ke jakarta kalau TA belum selesai. tapi.. ibu saya menelfon dan (sedikit) memaksa saya pulang, kalau sudah begitu, saya ga bisa nolak. jumat kmarin saya dijemput kakak dan suaminya untuk kembali ke jakarta.
here i am.
sebenernya rada bingung juga di jakarta mau apa. 2 hiburan yang menyenangkan adalah inet dan anak2 kucing saya . itu juga sedikit menyedihkan karna satu dari mereka mati 1 hari sebelum saya pulang. Ozzi namanya, Almarhumah.Ozzi .
( . jadi mereka tinggal ber-4, itu juga udah diminta foto2nya, udah ada yang meu beli
Letting go was never easy..
Oke, dalam proses berfikir apa yang harus dilakukan liburan ini.. (disamping ngerjain DFD buat bab 4 ).. saya lagi kepengen banget memulai usaha, something to do, something related to desain (abis baca Concept. desain nya keren2 !) and could make money from it .. that would be nice!
hmm.. kebetulan dapet tawaran ni. bikin baju Batak community. sekalian desainnya katanya. trus adek pgn dibikinin jaket angkatan.. tapi…
semuanya belum pasti
baru ngobrol2 doang..
hm…
i’m wondering how to start a dream.
is it need a wing?
need a solid iron bone?
or it’s need a brilliant brain?
because i don’t have it all..
there must be something wrong..
because all i have is me
and everything in it.

well. maybe i should do the design now ;p..
toh, untk memulai sesuatu stidaknya kamu memulai dengan yang kamu punya, apapun itu.
wish me luck.. hehe.
Mainan barumu
December 12, 2008
Kau punya mainan baru. Teman dari sepimu. Pelintar sana sini, perintahkan duduk atau berdiri. Paksa ia berputar, menari. Kemudian dirimu tertawa, dari terbahak lalu geli sendiri. Usai kau usik dia, kau bungkusnya rapi. Buka laci, taruh di pojok sepi, tutup kembali.
Ya, itu mainan barumu. Yang kau lirik saat jenuh. hanya saat ingin lunturkan duka.
Mainan barumu kini melama. mungkin tidak usang, namun ia bosan kau acuhkan. Bosan menatapmu dari sudut laci. Sang Pembunuh Sepi, tidak lebih ?
Sekotak besar datang di depan pintu. Sekotak besar kesibukanmu. Sedetik ke depan tak ada 1 pun sel otakmu mengingatku. Mungkin nanti, saat jenuh itu harus dibunuh. Kau buka laci, menemukanku kembali.
Tenang, kau masih punya mainan, walau tak lagi baru. Aku, yang orang-orang sebut dengan kata ganti ‘temanmu’.



