rumah pohon

June 3, 2009

jalan itu masih saja sama
pohon lebat di kiri kanan tanjakannya
yang dulu teduh payungi jejak kecil kita
namun lapangan itu tak lagi luas
dijajah habis rumah rapat tinggi

aku ingat
saat kaki mungilmu di ranting pohon rambutan tertinggi
saat pemukul kayuku melesatkan bola kasti kita tinggi
dan bibirnya menghitung 1 sampai 30
sementara sepuluh lain cari tempat sembunyi
ingat kau?
di malam hari asap kita bumbung tinggi tinggi
berpura-pura dalam hati kita semua sedang camping
belum lagi sepedamu yang kukayuh
raketku yang dia ayun
atau coklatnya yang kau makan
ingatkah?
dengan ular tangga, karet lompat
bola gebok, tak kadal
dengan congklak, bulutangkis
mandi hujan, dan petasan
atau tentang film Yoko
yang kita kejar selepas mengaji
es mambo yang kita jilat sambil duduk sambil berdiri.. sambil berlari..
luka di lutut yang buat kita menangis
lemparan di base terakhir yang jadi kemenangan manis
atau keliling komplek orang ramai-ramai di minggu pagi
Ya Allah aku rindu
rindu kalian semua
ingin kembali sebentar saja
anggap sakit di dada ini tak kerasa
semua ada hukumnya
kita berubah. pergi. berai
semua ada peran
yang tidak untuk selamanya.