Hanya untukmu, Puteri..
Puteri..
ternyata kau terluka dalam
terpaan duka membuatmu jatuh
Semoga..
datang Ksatria,
Pedang dan tameng di kedua tangannya
Pedangnya menebas sedihmu
Tamengnya menahan sakitmu
Tangannya membangkitkanmu dari sana
Karena ia tahu..
Tangismu membuat bunga di tamannya layu
Karena ia mau..
Sedihmu berhenti membuat langitnya kelabu
Ia merasakan sakitmu..
Ia mengobati lukamu..
Ksatria mati..
Hanya untukmu, Puteri…
—-)0(—-
Malam ini ngutak-ngatik laptop, ternyata ketemu puisi ini. Saat jaman SMA dulu, seorang teman baik ngasih satu lembar puisi ini di balkon depan kelas waktu jam istirahat sekolah, dia robek dari halaman bukunya, sy masih inget sepintas-pintas gimana kertasnya dilipet dan ditulis dengan tinta biru, dia bilang sambil benerin kacamatanya ”Baca ya.. pas udah dirumah “. Yang saya inget, waktu itu lagi sedih banget, entah kenapa saya lupa.. yang pasti setelah baca ini, beberapa tahun lalu dan malam ini.. bahagia kembali, tersenyum lagi. Ungkapan yang sama pun terucap dr bibir yang sama ”Terimakasih teman.. semoga saja.
“ *kangen dengan teman2 seperti mereka T___T.*


