Bidadari Surga

August 31, 2009

         Namanya “Aini”. begitu ummi biasa memanggilnya. Salah satu “adik ” terbaik yang pernah ummi miliki, yang pernah ummi temui dan alhamdulillah Allah pertemukan ummi dengannya. Seharusnya 28 Januari lalu genap ia menginjak usia 37 tahun. Beberapa tahun bersamanya , banyak contoh yang bisa ummi ambil darinya. Kedewasaan sikap, keshabaran, keistiqomahan, dan pengabdian yang luar biasa meretas jalan da’wah ini. Seorang muharrik da’wah yang tangguh dan tak pernah menyerah. Sosok yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah putus asa dan memiliki khusnuzon yang teramat tinggi kepada Allah. Dan dia adalah salah satu amanah ummi terberat, ketika memang harusnya ia sudah memasuki sebuah jenjang pernikahan.

           Ketika beberapa akhwat lain yang lebih muda usianya melenggang dengan mudahnya menuju jenjang tersebut, maka ‘Aini Allah taqdirkan harus terus meretas keshabaran. Beberapa kali ummi berikhtiar membantunya menemukan ikhwan shalih, tetapi ketika sudah memulai setengah perjalanan proses..Allah pun berkehendak lain. Namun begitu, tidak pernah ada protes yang keluar dari lisannya, tidak juga ada keluh kesah, atau bahkan mempertanyakan kenapa sang ikhwan begitu ” lemahnya ” hingga tidak mampu menerjang berbagai penghalang ? Atau ketika masalah fisik, suku , serta terlebih usia yang selalu menjadi kendala utama seorang ikhwan mengundurkan diri , ‘Aini pun tidak pernah mempertanyakan atau memprotes ” kenapa ikhwan sekarang seperti ini ? Tidak ada gurat sesal, kecewa, atau sedih pada raut muka ataupun tutur katanya . Kepasrahan dan keyakinan terhadap kehendak Allah begitu indah terlukis dalam dirinya. Hingga, akhirnya seorang ikhwan shalih yang dengan kebaikan akhlak serta ilmunya, datang dan berkenan untuk menjadikannya seorang pendamping. Tidak ada luapan euphoria kebahagiaan yang ia tampakkan selain ucapan singkat yang penuh makna ” Alhamdulillah. .jazakillah ummi sudah membantu…mohon do’a agar diridhai Allah ” Alhamdulillah , Allah mudahkan proses ta’arauf serta khitbah mereka, tanpa ada kendala apapun seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Padahal ikhwan shalih yang Allah pilihkan tersebut berusia 10 tahun lebih muda dari usianya. Berkomitmen pada sunnah Rasulullah untuk menyegerakan sebuah pernikahan, maka rencana akad pun direncanakan 1 bulan kemudian, bertepatan dengan selesainya adik sang ikhwan menyelesaikan studi di negeri Mesir.

         Namun , Allah lah Maha Sebaik-baik Pembuat keputusan.. 2 minggu menjelang hari pernikahan, sebuah kabar duka pun datang. Usai ‘Aini mengisi sebuah ta’lim , motor yang dikendarainya terserempet sebuah mobil, dan menabrak kontainer didepannya. ‘Aini shalihah pun harus meregang nyawa di ruang ICU. 2 hari setelah peristiwa itu, Rumah sakit yang menanganinya pun menyatakan menyerah. Tidak sanggup berbuat banyak karena kondisinya yang begitu parah. Hanya iringan dzikir disela-sela isak tangis kami yang berada disana. Semua keluarga ‘Aini juga sang ikhwan pun sudah berkumpul. Mencoba menata hati bersama untuk pasrah dan bersiap menerima apapun ketentuanNya. Kami hanya terus berdo’a agar Allah berikan yang terbaik dan terindah untuknya.

           Hingga sesaat, Allah mengijinkan ‘Aini tersadar dan menggerakkan jemarinya. Rabb..sebait harapan pun kembali kami rajut agar Allah berkenan memberikan kesembuhan, walau harapan itu terus menipis seiring kondisinya yang semakin melemah. Hingga kemudian sang ikhwan pun mengajukan sebuah permintaan kepada keluarga ‘Aini. ” Ijinkan saya untuk membantunya menggenapkan setengah Dien ini. Jika Allah berkehendak memanggilnya, maka ia datang menghadap Allah dalam keadaan sudah melaksanakan sunnah Rasulullah.. .” Permintaan yang membuat kami semua tertegun. Yakinkah dia dengan keputusannya ? Dalam kedaaan demikian , akhirnya 2 keluarga besar itupun sepakat memenuhi permintaan sang ikhwan. Sang bunda pun membisikkan rencana tersebut di telinga ‘Aini. Dan baru kali itulah ummi melihat aliran airmata mengalir dari sepasang mata jernihnya. Tepat pukul 16.00, dihadiri seorang penghulu,orangtua dari 2 pihak, serta beberapa sahabat dan dokter serta perawat…pernikaha n yang penuh tangis duka itupun dilaksanakan.

        Tidak seperti pernikahan lazimnya yang diiringi tangis kebahagiaan, maka pernikahan tersebut penuh dengan rasa yang sangat sulit terlukiskan. Khidmat, sepi namun penuh isakan tangis kesedihan. Tepat setelah ijab kabul terucap…sang ikhwan pun mencium kening ‘Aini serta membacakan do’a diatas kain perban putih yang sudah berganti warna menjadi merah penuh darah yang menutupi hampir seluruh kepala A’ini. Lirih, kami pun masih mendengar ‘Aini berucap, ” Tolong Ikhlaskan saya…..” Hanya 5 menit. Ya..hanya 5 menit setelah ijab kabul itu. Tangisanpun memecah ruangan yang tadinya senyap menahan sesak dan airmata. Akhirnya Allah menjemputnya dalam keadaan tenang dan senyum indah. Dia telah menjemput seorang bidadari… Sungguh indah karunia dan janji yang telah Allah berikan padanya… Dia memang hanya pantas untuk para mujahidNya di Jannah al firdausi…. Dan sang ikhwan pun melepas dengan penuh sukacita dengan iringan tetes airmata yang tidak kuasa ditahannya.. . ” ..Saya telah menikahi seorang bidadari.. nikmat mana lagi yang saya dustakan…”

       Begitulah sang ikhwan shalih mengutip ayat Ar RahmanNya… Ya Rabb..Engkau sebaik-baik pembuat skenario kehidupan hambaMu..Maka jadikanlah kami senantiasa dapat memngambil hikmah dari setiap episode kehidupan yang Engkau berikan… Selamat jalan adikku sayang …engkau memang bidadari surga yang Allah tidak berkenan seorang ikhwan pun didunia ini yang bisa mendampingi kehidupanmu kecuali para ikhwan shalih yang berkhidmat di jalan da’wah dengan ikhlas, tawadhu dan siap berjihad dijalanNya dan kelak menutup mata sebagai seorang syuhada….” Selamat jalan ‘Aini..semoga Allah memberimu tempat terindah di surgaNya…. ( bait kenangan terakhir bersamamu; ummi tidak bisa menulis seindah tulisan2mu, tapi yakinlah ummi mengiringimu dengan indahnya do’a …semoga Allah kumpulkan kita kelak didalam surgaNya…amiin)

>>>bila ada kebaikan silahkan share k tmn2… ana dpt kisah ini dr seorang teman

Beda Belalang..

August 24, 2009

Lain lumbung lain belalang..  lain daerah lain ikhwahnya.. :)

Terakhir kali aku menetap di jakarta rambut masi belum ketutup, yg didengar dan ditahu hanya apa apa yang aku mau tahu, yang menyenangkan bagi duniawiku. Dulu mana ‘ngeh’ sama yang namanya liqo, syukron-afwan, ukhti-akhi, ushul-furu’, dsb.. :D
yah yang dasar2 aja sih alhamdulillah masih ngerti, masih jalan..seadanya.. astaghfirullah.
Sekarang menetap lama di jakarta , malah kangen sama bandung, tempat perkenalan sama hal2 baru tadi.. karena walaupun sudah pindah dimari dan tetep ada ikhwah dimana2 tetep aja rasanya beda. suasana beda..dan kalau dicerna2 bedanya, malah menarik dan lucu.
          Dari ngariyungan sm puchair dkk kemaren, masing2 cerita gmn suasana liqonya, deperanya, rapatnya, forum2 yg ada, dan kebanyakan adalah hal2 yang ga biasa, yang ga sering kita temuin di bandung dulu.
Dari mulai forum rohis yang acara nya sampe malem (beh, ga nyangka, ga lagi2 deh..) dari temen liqo yg ummahat2 semua yang single cuma atu (kita :) ) ), atau temen yg lain dari kampus yang sama kecuali kita, jadi kita asing bengong2 sendiri ga ada temen cs-an, hehe.. atau bahkan MR dan mutarabbi yang gue-elo gue-elo-an,atau mba2 yang maunya dipanggil nama aja, belum lagi di deperanya.. ada aja lah yang vulgar nyariin ikhwan di depan pasangan lain buat temen yg ketauan masih single =)) serem bgt neh.. atau yg di sms in ikhwan ‘aneh’, ada juga yg temen2 akhwat boncengan pake duduk ngadep depan di motor gak nyamping kyk di bandung pdhl jaraknya deket2 aja.. duh aneh2 dan lucu2 deh, lebih fleksibel, lebih santai, lebih bebas di ibukota ini… mungkin karena gak terbiasa, mungkin karena berasa ada di luar zona nyaman kita..
           Hm..Ibukota..ibukota, amat beragam wajahmu, kesemuanya cantik sebenarnya, asal tdk memecah belah dan menyimpang jauh dariNya.

             Tapi, pas aku liqo..terjawab sudah, pas banget bahasannya.. kekagetan, kegelisahan atau keheranan karena bedanya lingkungan dan suasana baru. materi ahad itu tentang ikhtilaf..
Bahwa ikhtilaf itu adalah keniscayaan. Yoi banget. bakal tambah keheranan saya atau bahkan bisa boring kalau semuanya percis sama..ga kenal dengan saudara lain, ga kenal dengan pendapat dan pemikiran mereka yg lain yang berwarna dan mewarnai, yang harus ditegaskan adalah gimana kita nyikapinnya, tanpa timbul perpecahan.. adab dan prinsip perbedaan itu sendiri..atau batas2 toleransi dan adab berdiskusi kalau ada yang kira2 ganjel karena beda.. bukan ingin mojokin, nyari kesalah ampe debat kusir, tp malah nyari benernya gimana dgn adem ayem aja bukan dengan nada tinggi dan intonasi yg lebay :D .. kalau kata teth saya sih ‘di bawah naungan persaudaraan dan cinta kepada islam, Allah dan RasulNya..’ , beuh cakep banget dah. hehehehehe.
oke deh ibukota.. ane hadepin ente pake cinta!! *jiah.. =))

What i’ve known as

July 10, 2009

Assalamualaykum.

Bismillah

Hari ini saya sadar ada satu hal kecil lagi yang sangat patut saya syukuri.. yang bertahun tahun dulu bahkan saya gak anggap. nama saya..

Di waktu2 awal saya udah bisa sadar nama saya apa dan seperti apa tulisannya gimana belajar nulisnya, yang saya pikirin adalah.. betapa susahnya nulis nama sendiri,
Beberapa tahun gak lama setelah saya masuk sekolah, saya selalu dapet absen terakhir-terakhir.. dan hal itu tentu berlangsung bertahun-tahun setelahnya selama sekolah, absen saya terakhir2.. kalau disebutin di akhir2.. kalau disuruh melakukan sesuatu berdasarkan urutan pasti sy termasuk orang2 terakhir.. ‘hm… bosan nunggunya kan’ saya fikir..
Yang paling saya inget adalah, kalau saya lagi kenalan sama orang dan orang itu kenalan dengan tulisan nama saya dulu.. mereka pasti mencob2 nyebutinnya… kadang-kadang jadi saras, jadi syarak, syaras.. huh, bukan cuma itu disebutin juga kata-kata “namamu susah ya…”

hiks… sedikit kesel dan sedih…

itu awal2 saya belum sadar ternyata nama saya lebih baik dari itu, setelah saya penasaran dan rada gregetan sama nama sy yang susah, sy tanya ayah saya “yah, kok sarah dikasih namanya susah gitu sih?” dan jawaban ayah saya “awalnya ayah mau ambil dari nama istri Nabi Ibrahim (saw), Siti Sarah.. yang cantik dan sholehah..”
Ya, ternyata nama saya gak lain dan gak bukan adalah harapan, doa.. agar saya bisa jadi perempuan yang sholehah dan cantik.. kalau kata mama saya, itu modal yang cukup banget buat seorang wanita, hehe… tapi itu kan harapan ya.. ga tau aslinya sekarang.. hehehe
selain itu, nama saya juga ternyata sesuai dengan karakter saya.. setelah ayah saya jawab, saya tanya lagi ” kok ada ‘y’ sama ‘c’ nya? kan jd susah.. :(  ”, tapi ayah saya jawab.. “biar beda aja, kan banyak yang namanya sarah doang..” . Hm, pas bgt dgn diri saya, pengen beda dengan kebanyakan orang, knp baru sadar sekarang ya?

Oia, saya jadi inget pernah dosen guru dan pewanwancara psikotes sy komentar saat baca nama sy pertama kalinya “wa,nama kamu bagus sekali…”  Yiah…. terbang deh… :) )
dan hal baru yang saya sadari adalah.. ternyata, kalau sy googling nama sendiri, cukup nama depannya aja.. udah langsung keluar hasil, dan semuanya kebanyakan tentang saya, nobody else.. MP saya, WP saya, Facebook saya, isi blog orang yang ada nama sayanya.. bukan org lain dengan nama saya, tp saya.
dan keuntungan lain.. kalau bikin ID, username, atau web address.. most of the time.i dont need more characters added just because mine is occupied or the same with others. it feels special… :D

it makes me realize.. there’s so much i could grateful for..

NB : *but maybe.. it makes so easy to find me, hm….

who is he?

May 15, 2009

there’s someone out there for me
i know he’s waiting so patiently

how does he laugh? how does he cry?
what’s the colour of his eye?
does he even realize i’m here?

Denger lagu ini barusan dari PC rumah.
hihihi lucu liriknya.

Jakartaku

May 13, 2009

Sekedar bercerita..

Hari ini dapat kesempatan tes psikotes di perusahaan farmasi di daerah permata hijau. Beuh, beda-beda deh apa yg saya rasain tiap jamnya. Pertama kali datang. Saya ngerasain Jakarta tidak ramah, satpam-satpam di kantor tersebut galak-galak, jangankan satpam, saya jalan sedikit dari kantor tersebut, ketemu tukang rujak, yang ini jutek juga, padahal saya cuma nanya musholla dimana :( . Mungkin karena saya terbiasa dengan keadaan satpam2 hansip2 dan abang2 rujak di Bandung yang sopan-sopan..

Nah, ngapain nanya musholla sama tukang rujak? Karena ternyata di gedung sebesar itu sepertinya ga ada mushollanya, saya disuruh jalan keluar sekitar 30 meter masa’ sama satpamnya. berhubung takut nyasar sekitar 10 meter saya nanya tukang rujak. ternyata mushollanya masih terus lagi. wah gawat juga kalau gitu… *husnudzonnya : musholla di gedungnya KHUSUS buat karyawan.

Pas sampe mushollanya. kecil. ruang tengah dikunci. tempat wudhu tidak memadai *:((. Alhamdulillah ga kenapa2. Tapi… ternyata, mushollanya walau ga begitu keurus ada aja yg dateng kesitu, walau bapak2 semua, tapi Alhamdulillah bisa dpt jamaah-an. Diantara gedung-gedung tinggi seakan menggapai langit, yang kokoh bersih megah dan gemerlapan itu.. Alhamdulillah.. masih ada bangunan yang tinggi tidak sampai sepertiganya, tapi apa yang dilakukan di dalamnya lebih mungkin mencapai langit. …dan masih ada yang mengunjungi.

Pas psikotes, uugghh.. lama. 4 jam. *mana cuma sarapan mie tadi.* dimulai jam 14.30. lebih gawat lagi sy heran di tengah2 waktu tes gak ada istirahat sholat. dan ga ada yg izin sholat juga. duh, bodo ah saya ngabur aj sendiri keluar. *1 lt. kebawah + 30 meter keluar gedung (lagi) !!

Keluar psikotes 18.20. tebak.. saya ga tau gmn caranya saya pulang !!. haha. mana daerah sekitar situ saya buta 99%. ga ngerti deh. nunggu taksi depan gedung gak keliatan batang hidungnya *walau saya tau taksi ga punya hidung*, pdhl naek taksi ampe rumah bs 80rb-an.. bakso dpt berapa mangkok tuh. . Tapi… pertolongan Allah saya yakin pasti datang. telfon berdering. Kakak+ipar bilang ingin jemput di Gatsu. okeh. gpp deh naik taksi ampe gatsu. better than nothing.

Di mobil.. saya mikir, ini kota udah ‘dunia’ banget. kanan kiri gedung. jarang ketemu orang ramah. nyari musholla susah. mobil mewah mewah. padahal ga semua mobil penuh isinya. pdahal ga semua ruang di gedung2 itu ada orangnya. semua orang mungkin memprioritaskan bersaing mendapatkan sesuatu untuk bertahan hidup. Aagh… jauh sekali dari Bandungku… :( (. Akhirnya, Saat melewati daerah Tanjung Barat… di mobil terdengar bunyi debum2 familiar. 2 detik kemudian.. hmm, rasanya saya tahu nada ini.

Allah ghayatuna ..ArRasul Qudwatuna ..AIQuran dusturuna ..AIJlhadu sablluna ..AIMautu fi sabilillah ..asma amanina

Shohar ! Shoratul Harakah !! senyum deh saya, walau capek banget. akhirnya……… kembali hati rindu suasana itu.

serasa diingatkan kembali tujuan saya nyari kerja apa… hehe. pasrah deh, yang terbaik aj gimana…

5 detik setelah lagu selesai, saya rasa saya tertidur. :)